Hikmatul Aulia
Agama | 2026-06-25 14:10:23
Sumber: Pinterest.com
Malu merupakan salah satu akhlak terpuji yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Secara bahasa, malu berasal dari bahasa Arab al-hayā’ yang berarti perasaan segan, enggan, atau takut melakukan sesuatu yang dianggap buruk dan tercela. Secara istilah, malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang tidak baik serta menjaga diri dari tindakan yang dapat merendahkan martabatnya. Sifat malu yang benar bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tetap berada di jalan kebaikan.
Dalam perspektif Islam, malu merupakan bagian dari keimanan. Al-Qur’an memberikan teladan tentang sikap malu, seperti yang terdapat dalam kisah putri Nabi Syuaib yang datang menemui Nabi Musa dengan penuh rasa malu dan menjaga adab (QS. Al-Qashash: 25). Selain itu, Rasulullah saw. bersabda, “Malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula rasa malunya untuk melakukan perbuatan yang dilarang Allah Swt. Malu menjadi benteng yang melindungi manusia dari perilaku tercela dan kemaksiatan.
Para ulama memandang malu sebagai salah satu akhlak yang menghimpun berbagai kebaikan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan tidak mengabaikan hak orang lain. Sementara itu, Imam Al-Ghazali menyebut malu sebagai buah dari kesadaran seseorang bahwa Allah Swt. senantiasa mengawasi segala perbuatannya. Menurut para ulama, sifat malu yang terpuji adalah malu yang mendorong kebaikan dan menjauhkan seseorang dari maksiat, bukan malu yang menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu atau menyampaikan kebenaran.
Sikap malu perlu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Di lingkungan keluarga, malu dapat diwujudkan dengan menjaga sopan santun kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya serta menghindari perilaku yang dapat mencoreng nama baik keluarga. Di kampus, mahasiswa dapat menerapkan rasa malu dengan tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, dan menjaga etika dalam berinteraksi dengan dosen maupun teman. Sementara itu, dalam kehidupan bermasyarakat, malu dapat diwujudkan dengan menghindari perbuatan yang merugikan orang lain, menjaga norma sosial, serta berperilaku santun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki rasa malu yang dilandasi iman, seseorang akan lebih mudah menjaga kehormatan diri dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Oleh: Hikmatul Aulia
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 hour ago
4











































