Korban Gempa di NTT Capai 68 Jiwa

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi M 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) mencapai 68 jiwa hingga Senin (17/8/2026) sore. Selain korban meninggal, jumah korban yang mengalami luka juga mencapai ratusan orang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan hingga saat ini total terdapat 68 orang yang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa tersebut. Pemerintah menyatakan belasungkawa atas meninggalnya warga akibat gempa bumi di NTT. 

"Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa, sekali lagi 68 jiwa, yang meninggal," kata dia saat konferensi pers secara daring, Senin pukul 16.00 WIB.

Puluhan korban meninggal itu tersebar di tujuh provinsi yang berada di NTT. Rinciannya adalah 26 orang korban meninggal berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 26 jiwa, 24 orang di Kabupaten Manggarai Timur, delapan orang di Kabupaten Nagekeo, empat orang di Kabupaten Sikka 4, dan masing-masing dua orang di Kabupaten Ende, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Ngada.

Sementara untuk korban luka, Berton menyebutkan, total terdapat 213 orang. Menurut dia, pihaknya terus memantau perkembangan jumlah korban meninggal maupun luka. BNPB memastikan akan terus memperbarui informasi terkait dampak bencana tersebut. 

"Kita selalu berharap dan berdoa agar tidak ada lagi ketambahan dari jiwa yang meninggal maupun yang luka-luka," kata dia.

Ihwal kondisi di lapangan, BNPB mencatat, terdapat 1.576 kali gempa bumi susulan. Gempa bumi susulan itu paling tinggi tercatat memiliki keluarga M 6,2 yang terjadi satu kali dan tiga gempa susulan juga dirasakan oleh masyarakat. Sementara gempa susulan yang tidak dirasakan masyarakat mencapai lebih dari 1.500 kali sejak Sabtu.

Ia menyatakan, hingga saat ini tim dari Basarnas masih terus siaga di tujuh kabupaten yang terdampak gempa bumi NTT. Namun, berdasarkan laporan terakhir, sudah tidak ada lagi laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. 

"Namun demikian, meskipun tidak ada laporan, tim Basarnas, tim gabungan Basarnas, tetap melakukan upaya-upaya pencarian dan tetap menurunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak," ujar Berton. 

Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga elah mengirimkan dua rumah dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Nagekeo. Diharapkan rumah sakit itu dapat melayani korban terdampak gempa bumi. Pasalnya, banyak rumah sakit maupun puskesmas yang terdampak dari akibat bencana tersebut. 

Menurut Berton, Kemenkes juga telah mengirimkan dua tim Manajemen Krisis Kesehatan. Tim itu diterjunkan masing-masing di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende. Tim itu akan bertugas untuk mengawal koordinasi lapangan, khususnya untuk sektor kesehatan.

Selain itu, Kemenkes juga mengirimkan dua tim untuk Emergency Medical Team. Tim pertama diterjunkan untuk melakukan penanganan di wilayah Ende, Nagekeo, dan Manggarai Barat. Sementara tim kedua difokuskan untuk Kabupaten Sikka.

"Kementerian Kesehatan juga sudah melakukan aktivasi terhadap Health Emergency Operation Center, di mana operasi kesehatan krisis ini berlokasi di 9 lokasi strategis dan ada di 8 titik tingkat kabupaten/kota yang saat ini terdampak," kata dia.

Tak hanya itu, TNI dan Polri bersama tim gabungan dari kementerian/lembaga juga bekerja optimal di daerah-daerah terdampak. Dari data BNPB, sebanyak 1.467 tim gabungan TNI, Polri, dan instansi lain, disebut terus bekerja untuk mengatasi keadaan di lapangan.

Berton mengatakan pemerintah juga memberikan dukungan alutsista maupun armada udara sebanyak 10 unit. Keberadaan alutsista itu tidak lain untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit maupun mempercepat distribusi logistik. Sebanyak lima unit alutsista ditempatkan di Labuan Bajo dan lima unit lainnya ditempatkan di Maumere.

"Kita sangat berharap bahwa penyelesaian penanganan gempa bumi di NTT ini bisa segera diatasi," ujar Berton.

Read Entire Article
Politics | | | |