Kian Serius, Jerman Siapkan Duet Mitra Putin untuk Dialog, Kremlin: Bukan Kami yang Memulai

10 hours ago 9

Vladimir Putin dan Gerhard Schroder saat menjabat kanselir Jerman pada 1998 hingga 2005

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah perang Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Jerman mulai mempertimbangkan jalur baru untuk membuka kemungkinan negosiasi damai dengan Rusia.

Media Jerman Der Spiegel melaporkan bahwa nama mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier muncul sebagai opsi mediator dalam kemungkinan pembicaraan dengan Moskow.

Menurut laporan tersebut, gagasan itu tengah dibahas di internal koalisi pemerintahan Jerman. Sejumlah elite politik Berlin menilai Schröder mungkin sulit menjalankan peran itu seorang diri, meski ia dikenal sebagai salah satu tokoh Eropa Barat yang paling dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Nama Steinmeier kemudian ikut dipertimbangkan, terlebih masa jabatannya sebagai presiden Jerman akan segera berakhir. Kehadirannya dinilai dapat memberi legitimasi diplomatik yang lebih kuat dalam kemungkinan jalur negosiasi baru antara Eropa dan Rusia.

Di saat yang sama, Kremlin memberi sinyal bahwa Moskow tidak akan mengambil langkah pertama untuk membuka dialog dengan Uni Eropa.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia hanya akan bergerak sejauh pihak Eropa benar-benar siap membuka komunikasi politik.

“Sebagaimana telah berulang kali dinyatakan Presiden Putin, setelah sikap yang diambil pihak Eropa, kami tidak akan memulai kontak semacam itu sendiri,” kata Peskov, seperti dikutip media Rusia RT dan National News Service.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Dewan Eropa António Costa sebelumnya menyebut Uni Eropa mulai mempersiapkan kemungkinan negosiasi dengan Rusia terkait konflik Ukraina.

Dinamika ini memperlihatkan perubahan psikologis yang mulai terjadi di Eropa. Setelah lebih dari dua tahun perang berlangsung, sejumlah negara Eropa tampaknya mulai menyadari bahwa konflik Ukraina bukan hanya persoalan militer, tetapi juga krisis jangka panjang yang memengaruhi ekonomi, energi, keamanan, dan stabilitas politik kawasan.

Namun upaya membuka jalur dialog dengan Moskow juga mengandung paradoks besar. Selama ini Eropa tampil sebagai pendukung utama Ukraina dan menjatuhkan sanksi besar terhadap Rusia. Kini, ketika tekanan geopolitik dan ketidakpastian global meningkat, sebagian elite Eropa justru mulai berbicara tentang perlunya negosiasi langsung dengan Kremlin.

Read Entire Article
Politics | | | |