Wanita menopause (ilustrasi). Menopause menjadi fase penting dalam kehidupan perempuan yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi secara permanen akibat menurunnya kadar hormon estrogen.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menopause menjadi fase penting dalam kehidupan perempuan yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi secara permanen akibat menurunnya kadar hormon estrogen. Selain menimbulkan gejala umum seperti hot flashes dan perubahan suasana hati, penurunan estrogen juga disebut berdampak pada kesehatan otak.
Konsultan senior obstetri dan ginekologi di MGM Healthcare, dr Lakshmi Aswathaman, mengatakan perempuan pascamenopause berpotensi lebih rentan mengalami penyakit parkinson. Menurutnya, hormon estrogen memiliki efek perlindungan terhadap neuron penghasil dopamin di otak. Ketika kadar estrogen menurun seperti saat menopause atau setelah histerektomi dini, risiko parkinson dapat meningkat.
"Penurunan estrogen dapat memperburuk gejala motorik, meningkatkan periode off, serta menyebabkan kelelahan lebih berat pada pasien parkinson," kata Aswathaman, dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (9/5/2026).
Parkinson sendiri merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang hingga kini belum memiliki obat untuk menyembuhkannya. Penanganan yang tersedia umumnya bertujuan mengendalikan dan mengurangi gejala. Namun, perubahan hormonal selama menopause dapat membuat pengelolaan penyakit menjadi lebih sulit.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2021 menemukan bahwa perempuan yang mengalami menopause lebih lambat memiliki risiko sedikit lebih rendah terkena parkinson. Hal ini diduga karena paparan estrogen alami berlangsung lebih lama sehingga memberikan efek perlindungan pada otak.
Dinter juga menyoroti potensi manfaat terapi penggantian hormon (HRT) untuk mengelola gejala menopause. Beberapa studi, kata dia, telah menunjukkannbahwa terapi hormon dapat mengurangi gejala yang berkaitan dengan parkinson.

6 hours ago
11

















































