Kementerian Kesehatan Tekankan Pendekatan Holistik untuk Haji 2026

14 hours ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pengelolaan ekspektasi dan pendekatan holistik sangat penting untuk membantu jemaah haji melaksanakan ibadah dengan lebih tenang dan fokus. Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan di kementerian, mengungkapkan bahwa Haji 2026 akan menjadi salah satu pertemuan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jemaah dari seluruh dunia, termasuk sekitar 221.000 dari Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 merupakan jemaah lanjut usia yang menghadapi tantangan fisik dan mental lebih besar.

“Haji adalah praktik keagamaan yang sangat penting bagi umat Muslim. Namun, di balik makna religiusnya yang mendalam, terdapat tantangan kesehatan mental yang signifikan,” katanya pada Rabu. Ia mencatat bahwa perubahan lingkungan, kerumunan besar, dan tekanan fisik serta emosional dapat memicu stres, kecemasan, bahkan gangguan kesehatan mental.

Laporan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 10 hingga 15 persen jemaah memerlukan perhatian khusus terkait masalah kesehatan mental, sementara 30 hingga 40 persen mengalami gangguan tidur akibat ritme sirkadian yang terganggu dan aktivitas ibadah yang intens.

Data dari Pusat Kesehatan Haji Indonesia menunjukkan bahwa jemaah lanjut usia adalah kelompok yang paling rentan, dengan sekitar 80 persen pasien yang dirawat karena gangguan mental menunjukkan gejala demensia. Imran juga menyoroti bahwa suhu di Mekah saat ini berkisar antara 35 hingga 38 derajat Celsius dengan kelembaban rendah, kondisi yang dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, dan masalah tidur.

Ia menambahkan bahwa regulasi ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Arab Saudi terkait visa, akses ke Mekah, dan penggunaan aplikasi digital Nusuk telah meningkatkan tekanan psikologis, terutama bagi jemaah yang tidak terbiasa dengan teknologi dan khawatir terhadap potensi sanksi pelanggaran.

Pentingnya Persiapan Mental

Ritual seperti tawaf dan sa’i yang menuntut dapat berkontribusi pada kelelahan emosional, sementara fase kepulangan memerlukan penyesuaian kembali setelah pengalaman spiritual yang intens. Faktor lain seperti perbedaan budaya, fasilitas terbatas, dan interaksi dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan frustrasi dan perasaan terisolasi.

“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan pengelolaan ekspektasi sama pentingnya dengan persiapan fisik, sehingga jemaah dapat menjalani dinamika ibadah dengan tenang tanpa dibebani ekspektasi yang tidak realistis,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, ia menekankan pentingnya pendekatan holistik. Konseling pra-keberangkatan yang mencakup pelatihan manajemen stres, jadwal ibadah yang seimbang dengan istirahat yang cukup, serta perhatian pada hidrasi dan nutrisi merupakan strategi kunci. Praktik relaksasi, doa, dan dhikr dapat membantu menenangkan pikiran, sementara dukungan sosial dari sesama jemaah menumbuhkan rasa kebersamaan dan mengurangi kecemasan.

“Petugas kesehatan haji kini dilengkapi dengan tim khusus untuk merespons cepat masalah psikologis dan mencegahnya berkembang menjadi kondisi yang lebih serius,” tambahnya. Dengan persiapan mental yang tepat, ekspektasi realistis, kepatuhan terhadap regulasi, dan dukungan kuat dari keluarga dan komunitas, diharapkan ibadah haji 2026 dapat dilaksanakan dengan lebih tenang, fokus, dan penuh pemenuhan spiritual.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Politics | | | |