JAPFA Tingkatkan Daur Ulang Air dan Pemanfaatan Energi Bersih

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketersediaan air dan energi menjadi tantangan yang semakin penting bagi industri pangan di tengah risiko perubahan iklim. PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyatakan telah memperkuat pengelolaan air, limbah, dan energi sebagai upaya menjaga keberlanjutan rantai pasok pangan.

Komitmen tersebut dipaparkan JAPFA dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (INVIROTECH) 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 11-13 Juni 2026.

Salah satu capaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94 persen pada 2025 dibandingkan 2023. JAPFA menyebut efisiensi penggunaan air menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air.

Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menilai ketersediaan air bersih memiliki peran penting dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternakan hingga produk yang sampai ke konsumen. Karena itu, perusahaan terus mengembangkan fasilitas daur ulang air, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta menerapkan pemanenan air hujan di sejumlah unit operasional.

Direktur JAPFA Rachmat Indrajaya mengatakan, keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis di tengah perubahan iklim.

“Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis,” ujar Rachmat, Rabu (17/6/2026).

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian pengurangan limbah. Sepanjang 2025, perusahaan mengalihkan lebih dari 90 persen limbah non-B3 atau sekitar 137 ribu ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti penggunaan kembali dan daur ulang.

Perusahaan juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah. Sementara kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi.

Di sektor energi, JAPFA mempercepat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Sejak 2025, perusahaan mulai menghentikan penggunaan batu bara secara bertahap dan beralih ke sumber energi yang lebih rendah emisi seperti gas alam dan biomassa berbahan bakar cangkang kemiri serta cangkang sawit.

Saat ini, energi biomassa menyumbang sekitar 35 persen dari total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut juga diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan kapasitas terpasang mencapai 1,8 megawatt peak (MWp) di berbagai fasilitas produksi.

Langkah-langkah tersebut turut mendapat perhatian dari sektor keuangan. JAPFA sebelumnya memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai 350 juta dolar AS pada 2021 dan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI senilai Rp1,42 triliun pada 2022. Skema pendanaan itu mengaitkan kinerja keuangan dengan pencapaian target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

Read Entire Article
Politics | | | |