Warga Iran berjalan di depan lukisan raksasa mengilustrasikan kapal di Selat Hormuz yang terpampang di Teheran, Senin (20/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Militer Iran dan Amerika Serikat kembali saling balas serangan di Selat Hormuz. Hal ini terjadi di tengah upaya mencapai gencatan senjata permanen menyusul agresi AS dan sekutunya Israel terhadap Iran.
Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengatakan AS telah melanggar gencatan senjata dengan menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di seberang pelabuhan Fujairah UEA, menurut penyiar IRIB Iran.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara tersebut mengatakan AS juga “melakukan serangan udara di wilayah sipil bekerja sama dengan beberapa negara di wilayah pesisir Khamir, Sirik dan Pulau Qeshm”.
“Militer Iran segera dan sebagai pembalasan menyerang kapal militer Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal tersebut”, bunyi pernyataan itu.
Juru bicara tersebut memperingatkan AS dan sekutunya bahwa Iran “akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap agresi apa pun… tanpa ragu sedikit pun”.
Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih pasukan Amerika mencegat “serangan Iran yang tidak beralasan” dan merespons dengan “serangan pertahanan diri” ketika kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS transit di Selat Hormuz menuju Teluk Oman pada 7 Mei.
Menurut pernyataan CENTCOM, pasukan Iran melancarkan serangan terkoordinasi yang melibatkan “beberapa rudal, drone, dan perahu kecil” sementara USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) sedang menavigasi jalur laut internasional. Para pejabat AS mengeklaim “tidak ada aset AS yang diserang” selama keterlibatan tersebut.
Menanggapi “agresi tersebut”, Komando Pusat AS mengatakan pihaknya “menghilangkan ancaman masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab menyerang pasukan AS.”
Serangan-serangan ini mengenai beberapa sasaran utama, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, lokasi komando dan kendali, pusat intelijen, pengawasan, dan pengintaian, katanya. “CENTCOM tidak mengupayakan eskalasi tetapi tetap pada posisi dan siap melindungi pasukan Amerika,” tambah pernyataan itu.

13 hours ago
12
















































