Harga Minyak Kembali Tembus 80 Dolar AS, Pasar Waspadai Dampaknya ke IHSG

2 hours ago 3

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga minyak dunia kembali bergerak di atas level 80 dolar AS per barel pada awal pekan seiring munculnya keraguan pasar terhadap implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut menambah kehati-hatian investor di pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.

“Implementasi kesepakatan damai yang masih rapuh membuat risiko terhadap pasar energi, inflasi, dan sentimen global tetap perlu dicermati,” tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, Senin (22/6/2026).

Reuters melaporkan harga minyak Brent kembali bergerak di atas 80 dolar AS per barel pada awal pekan di tengah ketidakpastian hubungan AS dan Iran. Ketidakpastian tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga masih menunggu arah kebijakan moneter AS setelah Federal Reserve memberikan sinyal lebih hawkish pada pertemuan terakhirnya. Pasar kini menantikan komentar sejumlah pejabat The Fed untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Di dalam negeri, tekanan eksternal tersebut masih membayangi pergerakan pasar saham. Meski IHSG menguat 2,82 persen sepanjang pekan lalu ke level 6.177,14, investor asing masih membukukan jual bersih yang cukup besar.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 3,19 triliun pada perdagangan terakhir pekan lalu. Secara kumulatif sejak awal tahun, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp 82,76 triliun.

Kiwoom Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berpotensi fluktuatif di tengah tingginya ketidakpastian global. Selain perkembangan geopolitik dan arah kebijakan The Fed, pelaku pasar juga akan mencermati keputusan suku bunga acuan China atau Loan Prime Rate (LPR) yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah stimulus ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Dari dalam negeri, investor turut menyoroti perkembangan penerbitan Panda Bond Indonesia setelah pemerintah memperoleh dukungan dari Pemerintah China dan People’s Bank of China (PBOC) untuk mempercepat proses perizinan. Selain itu, implementasi program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 juga dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi sektor energi dan kelapa sawit.

Menurut Kiwoom Sekuritas, level support penting IHSG berada pada kisaran 6.030 hingga 5.930. Sementara peluang penguatan yang lebih kuat baru akan terbuka apabila indeks mampu menembus level 6.300 yang menjadi area resistance utama.

Read Entire Article
Politics | | | |