IPK Tinggi tak Cukup, Saatnya Mahasiswa Melek Literasi!

2 hours ago 2

Oleh: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa abad ke-21 hidup dalam situasi akademik dan profesional yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Arus informasi bergerak cepat, tuntutan dunia kerja semakin dinamis, dan kompetisi berlangsung secara global.

Dalam kondisi ini, kemampuan akademik semata tidak lagi cukup. Nilai tinggi tanpa keterampilan berpikir, bersikap, dan mengelola informasi justru berisiko membuat mahasiswa gagap menghadapi realitas.

Di sinilah literasi dan peran perpustakaan menjadi fondasi penting dalam membentuk soft skill mahasiswa. Sebagai pustakawan, saya melihat langsung bagaimana literasi informasi menjadi kebutuhan mendesak.

Mahasiswa hari ini dihadapkan pada banjir informasi tetapi tidak semuanya benar, relevan, atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kemampuan mencari, menyeleksi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis dan etis adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki.

Perpustakaan hadir bukan sekadar sebagai ruang koleksi buku, tetapi pusat pembelajaran literasi akademik yang membekali mahasiswa dengan kecakapan intelektual.

Literasi yang kuat akan melahirkan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa yang terbiasa berinteraksi dengan sumber ilmiah lebih terlatih menganalisis, membandingkan sudut pandang, dan menarik kesimpulan secara rasional.

Di perpustakaan, mahasiswa belajar bahwa pengetahuan tidak berdiri tunggal, melainkan harus diuji, diperdebatkan, dan dipahami secara mendalam. Proses inilah yang membentuk cara berpikir kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan baik di dunia akademik maupun profesional.

Selain itu, etika akademik dan integritas ilmiah menjadi aspek yang tidak bisa ditawar. Di tengah kemudahan akses informasi digital, risiko plagiarisme semakin besar.

Mahasiswa perlu memahami pentingnya sitasi, penghargaan terhadap karya ilmiah orang lain, serta tanggung jawab moral dalam menulis dan meneliti. Perpustakaan berperan aktif memberikan edukasi tentang penulisan ilmiah yang beretika, karena kejujuran akademik adalah fondasi kredibilitas intelektual.

Perpustakaan juga menjadi ruang tumbuhnya kemandirian belajar. Mahasiswa tidak bisa selamanya bergantung pada dosen atau materi kelas. Dunia terus berubah, dan kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi kunci.

Lingkungan perpustakaan yang kondusif serta akses ke sumber ilmiah yang luas mendorong mahasiswa mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri. Di sinilah karakter pembelajar sejati dibentuk.

Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, memandang penguatan literasi berbasis perpustakaan sebagai bagian dari strategi besar mencetak lulusan yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Perpustakaan dan pustakawan bukan pelengkap, melainkan mitra strategis dalam pengembangan soft skill mahasiswa.

Jika ingin sukses di abad ke-21, mahasiswa harus melampaui sekadar IPK. Saatnya menjadikan literasi sebagai kekuatan karena masa depan dimenangkan oleh mereka yang mampu berpikir, belajar, dan bersikap secara cerdas.

Read Entire Article
Politics | | | |