Penyakit Kawasaki (ilustrasi). Penyakit Kawasaki mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang tua, namun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan serius agar masyarakat tidak mengabaikan gejalanya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit Kawasaki mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang tua, namun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan serius agar masyarakat tidak mengabaikan gejalanya. Penyakit ini merupakan kondisi peradangan pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh, yang jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, dapat memicu komplikasi permanen pada pembuluh darah jantung anak.
"Komplikasi yang paling kita khawatirkan adalah pelebaran atau aneurisma arteri koroner. Kalau tidak diobati, risikonya bisa terjadi pada sekitar 15 sampai 25 persen pasien," kata dokter spesialis anak dan kardiologi anak sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) dalam seminar daring IDAI bertema Kawasaki pada anak yang diikuti dari Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Arteri koroner berperan penting dalam menyuplai darah dan oksigen ke otot jantung. Jika pembuluh tersebut mengalami pelebaran dan gangguan aliran, darah dapat membeku dan memicu serangan jantung meski pada usia anak.
Penyakit Kawasaki pertama kali dilaporkan di Jepang pada 1967 oleh dokter Tomisaku Kawasaki. Hingga kini penyebab pastinya belum diketahui, namun, diduga berkaitan dengan infeksi dan faktor genetik.
"Ini adalah vaskulitis sistemik atau peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Bisa mengenai banyak bagian, tapi yang menentukan keselamatan pasien adalah keterlibatan pembuluh darah jantung,” ujar profesor yang juga dikenal sebagai Bapak Kawasaki Indonesia itu.
Secara global, kata Najib, lebih dari satu juta kasus Kawasaki telah tercatat. Di Indonesia, Najib mulai melakukan sosialisasi dan penanganan sejak 1999 dan telah menangani lebih dari 2.000 kasus.
Najib, yang terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, juga menilai penyakit itu sering dianggap langka, padahal jumlah kasus cukup banyak dan berpotensi tidak terdiagnosis. Keterlambatan diagnosis membuat anak datang dalam kondisi sudah terjadi kelainan koroner.
Dia mengatakan, dengan terapi yang diberikan lebih awal, risiko kelainan arteri koroner dapat ditekan hingga sekitar dua sampai tiga persen. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal serta rujukan cepat kepada dokter anak dan kardiolog anak.
sumber : Antara

2 hours ago
5















































