REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Sebut saja namanya Sarib. Pria paruh baya asal Pemalang ini merupakan pengemudi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan trayek Jakarta-Kendal. Saat Republika menemuinya di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Kamis (6/8/2026), Sarib tengah membersihkan interior bus yang dikemudikannya. Ia mengaku telah 11 tahun bergabung dengan perusahaan otobus (PO) tempatnya bekerja, yang mayoritas armadanya menggunakan sasis Hino.
"Setiap tahun pasti ada bus Hino yang baru. Perusahaan kami biasanya menggunakan karoseri Laksana," kata dia.
Sarib mengemudikan bus yang sudah cukup berumur dengan sasis RG1JN, yang pada masanya dikenal memiliki kemampuan melaju cepat dengan suspensi per daun yang cukup empuk. Meski usia kendaraan tidak lagi muda, Sarib mengaku tidak menemukan kendala berarti selama menjalankan tugas mengemudikan bus yang sudah berusia lebih dari dua dekade tersebut.
Menurut dia, perusahaan tempatnya bekerja memiliki prosedur wajib pemeriksaan yang harus dilakukan sopir sebelum bus berangkat. Mekanik dan pengemudi sama-sama memiliki peran menjaga kondisi kendaraan.
"Sebelum berangkat kami pasti mengecek semuanya, termasuk mesin. Biasanya kalau ada sesuatu pasti karena memang usia part sudah lama dan sudah waktunya diganti. Makanya pemeriksaan diperlukan untuk mengantisipasi hal tersebut. Selain menjaga kondisi busnya, faktor pengemudi juga penting untuk keselamatan penumpang. Saya berusaha menyetir dengan aman," ujarnya.
Pengalaman puluhan tahun mengemudikan bus membuat Sarib memahami alasan perusahaan tempatnya bekerja mempercayakan sebagian besar armadanya kepada Hino. "Setiap sasis bus Hino yang keluar dari dulu sampai sekarang pasti punya keunggulan dan ciri khas yang berbeda. Ada yang kuat di tanjakan, ada yang gesit di jalanan. Namun satu hal yang pasti sama adalah semua model Hino sangat mudah perawatannya," ungkapnya.
Bagi penumpang, keberadaan bus Hino mungkin tidak selalu terlihat sebagai bagian dari sebuah sistem transportasi yang panjang. Namun, pengalaman Mainazlah Arundita menunjukkan bagaimana reputasi kendaraan niaga ikut menentukan pilihan mobilitas masyarakat.
Hino punya citra sebagai kendaraan komersial yang tangguh, irit bahan bakar, dan menjadi tulang punggung transportasi umum. PO yang menggunakan bus ini sebagai armadanya dipastikan menerapkan tarif yang bersahabat.
Itu yang dirasakan Mainazlah Arundita saat beberapa tahun menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya. Awal pernikahan, ia sempat hampir setengah tahun berjauhan dengan suaminya. Arundita bekerja di salah satu operator seluler di Tasikmalaya, sementara suaminya di ibu kota. Mereka kemudian berkumpul di Jakarta.
Tak lama, Arundita mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun setelah menjadi istri, timbul rasa bosan dan ingin kembali bekerja. Nasib baik, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan di Banten. Namun konsekuensinya, ia kembali berjauhan dengan suaminya.
"Waktu pulang pergi Tasik-Jakarta, saya bisa menggunakan PO Budiman. Sementara rute Banten-Jakarta pakai bus Laju Prima dan Primajasa. PO ini rata-rata menggunakan bus Hino," kata Arundita yang menilai bus-bus yang ditumpanginya cukup nyaman untuk perjalanan jarak jauh untuk melepas rindu menemui cintanya.

5 hours ago
20















































