REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kekhawatiran mendalam kini tengah menyelimuti lingkaran petinggi Iran. Mereka menyadari bahwa serangan militer dari Amerika Serikat, meski dalam skala terbatas, dapat menjadi pemantik yang memicu gelombang unjuk rasa masif di dalam negeri.
Para pejabat senior telah memperingatkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei bahwa kemarahan publik akibat tindakan represif aparat pada protes sebelumnya telah mencapai titik nadir; rakyat tampaknya mulai kehilangan rasa takut dan berpotensi bertindak lebih brutal jika tekanan eksternal memberikan momentum.
Di sisi lain, aparat keamanan dipastikan akan bertindak lebih tegas dan tanpa kompromi untuk menjaga stabilitas rezim, yang pada akhirnya dikhawatirkan akan memicu pertumpahan darah dan jatuhnya korban jiwa di mana-mana.
Di tengah situasi domestik yang rapuh tersebut, bayang-bayang kekuatan militer Amerika Serikat kian nyata di depan mata. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa kapal perang besar sedang bergerak menuju perairan Iran sebagai bentuk tekanan nyata.
Meski demikian, Trump tetap membuka celah diplomasi dengan menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan melalui jalur negosiasi. Namun, pernyataan tersebut dibarengi dengan peringatan keras: jika kesepakatan gagal tercapai, "hal-hal buruk" akan segera terjadi, sebuah sinyalemen yang meningkatkan tensi di kawasan Timur Tengah, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.
Merespons ancaman tersebut, Teheran mulai menunjukkan pelunakan sikap demi menjaga kelangsungan kekuasaannya. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan telah menginstruksikan dimulainya kembali negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat.
Langkah strategis ini diambil untuk meredam potensi konflik bersenjata yang dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh Iran untuk menggulingkan rezim melalui pemberontakan rakyat. Upaya diplomasi ini pun mulai menemukan titik terang dengan adanya rencana pertemuan antara utusan AS, Steve Wittkopf, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, di Istanbul pada Jumat mendatang.
Bagi kepemimpinan di Teheran, negosiasi ini bukan sekadar urusan teknis nuklir, melainkan upaya krusial untuk mencegah keruntuhan tatanan politik yang mereka bangun. Mereka sadar betul bahwa kombinasi antara serangan militer asing dan ledakan demonstrasi penduduk yang marah adalah skenario terburuk yang bisa mengakhiri masa kekuasaan mereka.
Kini, mata dunia tertuju pada Istanbul, menanti apakah kesepakatan damai dapat tercapai ataukah kawasan tersebut justru akan terseret ke dalam spiral kekerasan yang lebih kelam.

1 day ago
4















































