REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sistem rudal anti-pesawat S-500 “Prometheus” milik Rusia kembali dipamerkan dalam parade Hari Kemenangan di Moskow pada 9 Mei, menegaskan ambisi Kremlin memperkuat pertahanan udara strategis di tengah meningkatnya ketegangan global. Dalam siaran resmi parade tersebut, penyiar menyebut S-500 memiliki kemampuan unik untuk mencegat target balistik maupun aerodinamis pada ketinggian tinggi.
Ini merupakan rudal darat ke udara yang dikabarkan mampu menghabisi pesawat tempur canggih Amerika seperti F-22 Raptor dan F-35, juga aneka rudal hipersonik. Spesifikasi gahar rudal ini akan dijelaskan di bagian bawah.
Cuplikan yang ditayangkan kepada publik juga memperlihatkan latihan tempur militer Rusia di zona operasi khusus, termasuk penggunaan pesawat nirawak atau drone yang kini menjadi elemen penting dalam peperangan modern. Kehadiran S-500 di parade itu dipandang sebagai pesan simbolik bahwa Rusia terus mempercepat modernisasi sistem pertahanan udaranya meski berada di bawah tekanan sanksi Barat, sebagaimana diberitakan Dzen.
S-500 Prometheus merupakan generasi terbaru sistem pertahanan udara Rusia yang dirancang untuk melampaui kemampuan S-400. Sistem ini diklaim mampu mendeteksi dan menghancurkan rudal balistik antarbenua, pesawat siluman, hingga target hipersonik dalam jarak ratusan kilometer. Rusia menyebut sistem tersebut dapat bekerja di lapisan atmosfer tinggi dan dekat ruang angkasa.
Majalah Amerika The National Interest pada 14 Maret lalu menempatkan S-500 sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaik di dunia. Para analis publikasi itu menilai kemampuan intersepsi rudal hipersonik menjadi salah satu keunggulan utama sistem tersebut, terutama ketika banyak negara berlomba mengembangkan senjata berkecepatan tinggi.
Kemunculan S-500 dalam parade Hari Kemenangan juga memperlihatkan fokus Rusia terhadap perang udara dan pertahanan strategis setelah konflik berkepanjangan di Ukraina mengubah pola peperangan modern. Selain mengandalkan tank dan artileri, Moskow kini menempatkan sistem pertahanan udara berlapis sebagai komponen vital menghadapi ancaman rudal jarak jauh dan drone tempur.
Di tengah rivalitas militer global yang semakin tajam, pengembangan S-500 menunjukkan bahwa perlombaan teknologi pertahanan antara Rusia dan Barat belum mereda. Sistem ini diproyeksikan menjadi tulang punggung pertahanan udara Rusia dalam menghadapi ancaman generasi baru, termasuk rudal hipersonik dan serangan udara berpresisi tinggi.
Jadi Sorotan
Sistem rudal anti-pesawat S-500 “Prometheus” kembali menjadi sorotan setelah dipamerkan Rusia dalam parade Hari Kemenangan di Moskow pada 9 Mei. Sistem pertahanan udara generasi terbaru itu diklaim memiliki kemampuan mencegat target balistik, pesawat siluman, hingga rudal hipersonik dengan kecepatan sangat tinggi.

11 hours ago
10
















































