Sa,i Resiliensi, dan Mentalitas Indonesia

6 hours ago 8

Oleh: Oman Sukmana, MM, MIkom, MIPR, Deputi Direktur OJK

Catatan Dari Makkah

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Di antara dua bukit bisu—Safa dan Marwah—sejarah mencatat detak jantung paling berani dalam sejarah kemanusiaan. Siti Hajar, seorang ibu yang berdiri sendirian di lembah gersang Bakkah, memeluk sunyi dalam tangisan dahaga bayi kecilnya, Ismail.

Di bawah terik matahari yang menyengat, Hajar terus berlari di antara pasir membara. Tujuh kali mengitari dua bukit Safa dan Marwah, demi mendapatkan setetes air untuk melepas dahaga bayi kecilnya.

Hajar tidak sedang ragu pada Tuhannya. Namun, itu pernyataan bahwa selama kaki masih berpijak, usaha tidak boleh berhenti. Ini episode paling epik sedunia.

Keringat yang menguap sebelum sempat jatuh ke tanah, mata yang menyipit mencari fatamorgana air, dan hati yang terus berbisik, "Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kami."

Lalu, keajaiban itu datang bukan dari puncak bukit tempat ia berlari, melainkan dari hentakan kaki kecil Ismail. Zam zam memancar—sebuah isyarat bahwa rezeki bisa datang dari arah tak terduga dan usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Sa'i di Tengah Badai Geopolitik

Siti Hajar tidak hanya menghadapi rasa haus, ia menghadapi isolasi. Ia berada di tengah lembah tanpa perlindungan, diapit ketidakpastian. Dunia hari ini pun serupa; geopolitik global sedang menciptakan "padang pasir" baru,  negara-negara dengan kekuatan dan kepentingannya masing masing saling bertarung. Aliansi bergeser, dan krisis energi serta pangan mengintai seperti terik matahari yang membakar.

Jika Safa dan Marwah adalah dua titik yang harus ditempuh bolak-balik, Indonesia hari ini berdiri di antara kutub-kutub kekuatan besar dunia. Tekanan geopolitik memaksa Indonesia untuk terus bergerak lincah—seperti lari kecil (lari-lari mudarobah) Hajar.

Jika Safa dan Marwah adalah dua titik yang harus ditempuh bolak-balik, Indonesia hari ini berdiri di antara kutub-kutub kekuatan besar dunia. Tekanan geopolitik memaksa Indonesia terus bergerak lincah—seperti lari kecil (lari-lari mudarobah) Hajar.

Perjuangan Hajar adalah tentang resiliensi. Kondisi Indonesia saat ini yang sedang berjuang menghadapi berbagai dampak krisis global memerlukan mentalitas Siti Hajar. Tidak ada tempat bagi pesimisme. Keluh kesah tidak akan menghasilkan mata air.

Hanya kerja keras yang konsisten—kolektif dari seluruh elemen bangsa—yang mampu mengubah padang tandus konflik menjadi oase kemakmuran. Di tengah ancaman perang di berbagai belahan dunia, "air" yang kita cari bukan lagi sekadar metafora, melainkan kedaulatan nyata.

Keberhasilan kita mengelola sumber daya alam dan hilirisasi di dalam negeri adalah bentuk hentakan kaki Ismail—sebuah upaya mencari sumber kehidupan mandiri agar kita tidak terus-menerus bergantung pada "fatamorgana" bantuan asing yang tidak pernah gratis.

Hajar juga tidak berhenti pada putaran ketiga atau keempat. Ia menyelesaikan ketujuh putarannya. Siti Hajar mengajarkan, kita tidak boleh menjadi korban dari keadaan. Kita aktor yang harus terus berlari mencari solusi.

Rahasia dari Zamzam bukanlah pada seberapa cepat kita berlari, tapi pada seberapa teguh kita percaya di balik setiap kesulitan, ada mata air yang sedang dipersiapkan Tuhan

Indonesia tidak butuh orang-orang yang hanya diam meratapi nasib. Kita butuh jiwa-jiwa dengan mentalitas sa'i: yang terus bergerak, yang pantang menyerah meski haus mencekik, dan yang yakin setiap hentakan kaki perjuangan—sekecil apa pun—pada akhirnya akan memancarkan keberkahan bagi generasi mendatang.

Jika Siti Hajar bisa mengubah lembah mati menjadi kota suci yang abadi melalui ikhtiar dan doa, maka Indonesia pun punya peluang muncul sebagai mata air bagi dunia di tengah kekeringan kedamaian global saat ini.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |