Cilok, Cinta, dan Cara Mahasiswa UBSI Membuktikan Ide Sederhana Bisa Jadi Jalan Hidup Pebisnis

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ada satu fase dalam hidup anak muda yang sering terasa membingungkan. Saat ide banyak, tapi keberanian belum tentu cukup. Saat mimpi besar, tapi langkah pertama masih ragu-ragu. Di titik itu, banyak yang memilih menunggu. Tapi tidak dengan Muhammad Onang Febriandi.

Mahasiswa semester 6 jurusan Manajemen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ini justru memilih jalan yang kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya penuh pertaruhan. Ia mengambil sesuatu yang sudah sangat biasa, yaitu cilok dan bertanya, “Bisa nggak ya ini dibikin jadi sesuatu yang beda?”.

Dari pertanyaan itu, lahirlah Cilok Cinta. Bukan sekadar cilok yang direbus lalu disiram bumbu kacang.

Di tangan Onang, cilok berubah jadi crispy, berisi, dan yang paling penting punya cerita. Ada ayam suwir pedas yang nyelekit, ayam mercon yang bikin kaget, teriyaki yang manis-manis licin, sampai keju lumer.

Sebenarnya bukan soal varian rasa itu yang menarik. Yang menarik adalah keberanian untuk percaya bahwa jajanan pinggir jalan pun bisa naik kelas, asal dipikirkan dengan serius.

“Berawal dari jajanan tradisional daerah Bandung, Jawa Barat dan diinovasikan melalui perpaduan kekinian serta kreativitas generasi muda, Cilok Cinta lahir sebagai usaha yang melestarikan jajanan tradisional dengan melihat tren di media sosial,” kata Onang saat diwawancarai lewat pesan WhatsApp, Jumat (27/3/2026).

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi dibaliknya ada satu hal yang sering diremehkan banyak orang yakni proses membaca zaman. Onang tidak sekadar jualan makanan, ia membaca bagaimana generasinya hidup. Apa yang mereka lihat di media sosial, apa yang mereka suka, dan bagaimana mereka memilih sesuatu untuk dibeli.

Ternyata jawabannya bukan selalu yang mahal. Tapi yang relate. Onang juga sadar satu hal penting bahwa kreativitas tanpa tanggung jawab itu berbahaya. Karena itu, ia memastikan produknya dibuat dari bahan yang layak konsumsi dan sudah bersertifikasi halal. Tidak berhenti di rasa dan keamanan, ia bahkan memikirkan bagaimana produknya bisa bertahan lebih lama.

Cilok Cinta hadir dalam bentuk frozen dengan kemasan vacuum bag berbahan Nylon dan PE/LLDPE. Bukan sekadar biar terlihat modern, tapi supaya produk bisa bertahan 2 sampai 3 hari di suhu ruang, 1 sampai 2 minggu di kulkas, dan hingga 3 bulan di freezer.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan lagi sekadar jualan cilok. Ini sudah masuk ke cara berpikir bisnis. Dibalik langkah Onang, ada peran kampus yang ikut mendorong. Mugi Raharjo selaku Kepala BSI Entrepreneur Center (BEC) melihat bahwa apa yang dilakukan Onang bukan sekadar eksperimen mahasiswa.

“Inisiatif ini bukan hanya berkontribusi pada ekonomi kreatif saja, tapi juga membentuk karakter mahasiswa menjadi individu yang berani dan inovatif,” ujar Mugi.

Di situlah letak pentingnya cerita ini. Kampus bukan hanya tempat duduk, dengar, lalu pulang, namun menjadi ruang untuk mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil dan tetap didukung.

Cilok Cinta pada akhirnya bukan cuma tentang makanan. Cilok Cinta menjadi simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar bahwa ide tidak harus megah untuk jadi bermakna. Kadang, cukup jujur, dekat dengan keseharian, dan punya niat untuk terus berkembang. Karena di dunia yang serba cepat ini, yang sering menang bukan yang paling pintar. Tapi yang paling berani mulai.

Kalau kamu ada di fase banyak ide tapi masih bingung mulai dari mana, mungkin kamu butuh lingkungan yang tepat. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) buat kamu yang ingin kuliah sambil benar-benar berkembang, bukan cuma secara akademik, tapi juga secara nyata. Daftar sekarang di https://pmbubsi.id. Siapa tahu, ide sederhana yang kamu anggap biasa itu justru jadi jalan hidupmu.

Read Entire Article
Politics | | | |