loading...
Eskalasi konflik maritim di Laut Merah memasuki babak baru yang kian mendesak. Arab Saudi dilaporkan tengah berupaya menggalang koalisi militer internasional baru untuk melindungi jalur pelayaran. Foto/Ilustrasi AI
JAKARTA - Eskalasi konflik maritim di Laut Merah memasuki babak baru yang kian mendesak. Arab Saudi dilaporkan tengah berupaya menggalang koalisi militer internasional baru untuk melindungi jalur pelayaran komersial dari gelombang serangan kelompok Houthi Yaman .
Langkah diplomasi defensif ini diambil Riyadh setelah jalur pasokan energi vital di perairan tersebut lumpuh akibat aksi saling balas antara kedua belah pihak.
Puluhan Negara Dirangkul: Mampukah Meredam Serangan Rudal?
Komposisi anggota koalisi internasional ini dilaporkan masih dalam tahap pembahasan intensif. Sumber yang mengetahui perundingan tersebut seperti dilansir Reuters mengungkapkan bahwa Pemerintah Arab Saudi tengah berdiskusi dengan puluhan negara mitra untuk mematangkan skema pengamanan armada kapal dagang.
Baca Juga: Houthi Bakal Kenakan Pajak Laut Merah: China Bebas Melenggang, Arab Saudi Makin Tertekan
Ancaman ini menguat setelah kelompok Houthi -yang bersekutu dengan Iran- secara resmi melakukan blokade maritim terhadap kapal-kapal Saudi sejak 20 Juli. Houthi mengklaim aksi tersebut dilakukan sebagai balasan atas pengepungan Yaman oleh Saudi, tuduhan yang ditolak keras oleh otoritas Riyadh.
"Blokade ini telah membuka front baru melawan Amerika Serikat dan sekutunya dalam perang regional yang lebih luas, memperluas jangkauan serangan terhadap tanker-tanker energi di luar kawasan Teluk."
Pukulan Telak Bagi Pasar Energi & Rantai Pasok Global
Langkah balasan Saudi berupa serangan udara ke fasilitas Houthi di Pelabuhan Hodeidah -yang ditengarai menjadi markas peluncuran rudal yang mengancam kapal komersial- belum sepenuhnya mampu mengamankan Selat Bab el-Mandeb.
Baca Juga: Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Akibat ketegangan yang membara di Laut Merah ini membuat jalur laut terancam, kapal tanker yang membawa pasokan minyak dan komoditas penting terpaksa memperhitungkan risiko keamanan tinggi atau memutar arah. Harga minyak dunia terkerek naik, lantaran gangguan distribusi energi di perairan krusial ini langsung memberikan tekanan psikologis pada pasar dan mendorong kenaikan harga.
Dengan keterbatasan pasukan angkatan laut Barat dalam mengawal seluruh kapal dagang, keberhasilan Arab Saudi merangkul koalisi internasional baru ini akan menjadi penentu utama stabilitas jalur perdagangan global dalam beberapa pekan ke depan.
(akr)

















































