4 Fakta Kurikulum Pendidikan Arab Saudi Berubah Drastis, Instruksi Melaporkan Tukang Sihir Dihapus

3 hours ago 5

loading...

Kurikulum pendidikan Arab Saudi berubah drastis. Foto/X/@HolyMakkah01

MEKKAH - Sistem pendidikan Arab Saudi terus melunakkan sikapnya terhadap Israel dan konflik Israel-Palestina dalam kurikulum sekolah. Itu dilaporkan surat kabar berbahasa Ibrani, Maariv.

Surat kabar tersebut mengutip laporan baru dari lembaga penelitian IMPACT-se, yang menelaah kurikulum sekolah Arab Saudi dari tahun 2024 hingga 2026.

Laporan itu menyebutkan bahwa Arab Saudi telah menghapus "pernyataan bermusuhan" dan mengubah konten terkait Israel, Yahudi, dan Yerusalem sebagai bagian dari upaya reformasi yang dijalankan oleh keluarga kerajaan di bawah Visi 2030.

Laporan tersebut menyatakan bahwa salah satu perubahan paling mencolok dilakukan pada buku teks bahasa Arab untuk Kelas 11. Edisi tahun 2023-2024 memuat kalimat, "Umat Muslim tidak akan melepaskan Yerusalem", namun kalimat tersebut dihapus sepenuhnya dari edisi tahun ajaran 2024-2025 dan seterusnya.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa kalimat itu sebelumnya menggambarkan kendali atau keberadaan umat Muslim di Yerusalem sebagai sesuatu yang terancam, dan penghapusannya menghilangkan referensi mengenai kota tersebut yang memicu perdebatan dari sisi politik maupun agama.

Melansir Semafor, Arab Saudi telah mengatasi sebagian besar "tema bermasalah" dalam kurikulum sekolahnya yang sebelumnya dianggap tidak toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi. Hal ini terungkap dalam tinjauan terhadap 136 buku pelajaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga kajian Israel yang telah memantau buku pelajaran kerajaan tersebut selama lebih dari 20 tahun.

Sebuah hadis yang menyamakan umat Kristen dan Yahudi dengan hewan yang cacat kini telah dihapus; siswa kelas 11 kini belajar tentang hidup berdampingan melalui perjanjian Nabi Muhammad dengan umat Kristen dan Yahudi. Siswa kelas 9 mempelajari sosok Galileo sebagai pelajaran mengenai pemikiran mandiri. Siswa kelas 6 diminta untuk menyanggah gagasan bahwa kebaikan hanya perlu diberikan kepada sesama Muslim.

Tinjauan oleh Institute for Monitoring Peace and Cultural Tolerance in School Education (IMPACT-se)—sebuah organisasi yang memiliki kritikus terkemuka yang mempertanyakan metodologi serta kesimpulannya—mencatat adanya perubahan di luar aspek agama. Pelajaran kini juga mendorong sikap welas asih terhadap pekerja migran dan penyandang disabilitas. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kurikulum telah bergerak "menuju moderasi yang lebih besar, inklusivitas, dan keselarasan dengan tujuan reformasi yang lebih luas dalam Visi 2030."

Read Entire Article
Politics | | | |