REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia sedang menghadapi dua tantangan besar yang saling berkaitan, yakni krisis iklim dan krisis energi. Menurutnya, kedua persoalan tersebut memiliki akar yang sama, yaitu ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil.
Dalam pidatonya pada London Climate Action Week, Guterres mengatakan dampak perubahan iklim terus memburuk di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memperlihatkan kerentanan sistem energi dunia yang masih bergantung pada minyak, batu bara, dan gas.
“Krisis iklim yang mendorong kita semakin dalam menuju suhu yang lebih tinggi dan semakin dekat dengan titik-titik kritis yang membawa bencana. Dan krisis energi yang menunjukkan betapa salahnya dunia karena terus-menerus bergantung pada energi hidrokarbon,” kata Guterres, Selasa (23/6/2026).
Menurut Guterres, solusi untuk kedua krisis tersebut adalah mempercepat transisi yang adil menuju energi bersih.
“Krisis-krisis ini berbagi kekuatan perusak yang sama: bahan bakar fosil dan juga menuntut jawaban yang sama: transisi yang cepat dan adil menuju energi bersih,” ujarnya.
Guterres mengingatkan dunia baru saja melewati sebelas tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Dampak perubahan iklim juga semakin terasa melalui meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana yang menimbulkan kerugian ekonomi besar di berbagai negara.
Ia menyoroti peringatan Organisasi Meteorologi Dunia yang memperkirakan el nino berpotensi memperburuk kenaikan suhu global, mengganggu ketahanan pangan dan air, serta meningkatkan kerentanan masyarakat di berbagai kawasan.
“Setiap momen sangat berharga. Karena semakin tinggi dan lama pelampauan suhu tersebut, semakin besar risiko melewati titik kritis planet yang memicu perubahan permanen,” katanya.
Guterres juga mengutip laporan Dewan Penasihat Ilmiah PBB yang menunjukkan sejumlah sistem bumi semakin mendekati titik kritis. Ancaman tersebut mencakup keruntuhan terumbu karang, percepatan pencairan lapisan es di Greenland dan Antartika Barat, melemahnya sirkulasi laut utama, hingga degradasi sebagian kawasan Hutan Amazon.
“Hilangnya lapisan es yang semakin cepat di Greenland dan Antartika Barat akan mengunci kenaikan permukaan laut yang membentuk ulang garis pantai, menggusur jutaan orang, dan mengancam eksistensi beberapa negara kepulauan,” ujarnya.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah kembali memperlihatkan kerentanan sistem energi global. Menurut Guterres, gejolak tersebut memicu tekanan yang tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memperburuk persoalan utang, pangan, dan pembangunan, terutama di negara-negara berkembang.
“Krisis kembar ini sekali lagi mengungkap batasan dari model pembangunan yang sudah usang,” katanya.
Guterres menilai ketergantungan terhadap bahan bakar fosil membuat sistem energi dunia rentan terhadap konflik dan gejolak pasar. Selain itu, kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim justru sering kali menjadi pihak yang paling terdampak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) serta pembangunan sistem ekonomi yang lebih tangguh dan rendah karbon.
Menurut Guterres, perkembangan energi terbarukan menunjukkan tren yang semakin positif. Dalam satu dekade terakhir, biaya teknologi tenaga surya turun hampir 90 persen, tenaga angin darat lebih dari 70 persen, dan penyimpanan baterai sekitar 95 persen.
“Tahun lalu, tenaga angin dan surya melampaui seluruh pertumbuhan permintaan listrik baru di seluruh dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan lebih dari 90 persen kapasitas energi terbarukan baru yang dibangun secara global kini lebih murah dibandingkan alternatif bahan bakar fosil termurah. Berdasarkan data Badan Energi Terbarukan Internasional, kapasitas energi terbarukan yang telah terpasang menghemat ekonomi global sekitar 480 miliar dolar AS pada 2025 melalui pengurangan kebutuhan bahan bakar fosil.
Guterres menegaskan keamanan energi masa depan tidak lagi dapat bergantung pada impor bahan bakar fosil yang rentan terhadap gejolak geopolitik.
“Tidak ada embargo pada sinar matahari dan tidak ada blokade pada angin,” katanya.
Menurut dia, energi terbarukan kini menjadi fondasi keamanan energi yang sesungguhnya. Elektrifikasi sektor transportasi, bangunan, dan industri juga dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan emisi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Menutup pidatonya, Guterres mengatakan dunia saat ini berada pada titik persimpangan penting. Di satu sisi, dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, tetapi di sisi lain revolusi energi bersih berkembang lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
“Ini adalah sebuah revolusi yang dapat membebaskan negara-negara dari harga pasar bahan bakar fosil yang naik-turun tidak menentu, memperluas akses energi bagi semua orang, memperkuat keamanan, menciptakan lapangan kerja, membersihkan udara yang kita hirup, memulihkan ekosistem yang rusak, serta membawa masa depan yang lebih aman ke dalam jangkauan kita,” ujar Guterres.
Ia menambahkan dunia memiliki peluang untuk mengubah tantangan tersebut menjadi momentum memperkuat ketahanan, keadilan, dan kemajuan bersama melalui percepatan transisi menuju energi terbarukan dan penguatan aksi iklim global.

4 hours ago
5













































