Sejarah yang Selalu Berulang

1 hour ago 4

Image Durohim Amnan

Risalah | 2026-08-27 08:42:04


Suatu saat di sebuah kelas diskusi, seorang perempuan paruh baya melontarkan pertanyaan sederhana kepada audiens: “Apakah kita benar-benar memahami sejarah bangsa kita sendiri?” Ruangan tiba-tiba hening. Padahal, forum itu membahas tentang masa depan demokrasi kita.

Dari situ saya sadar, sejarah rupanya masih menjadi hal yang asing bagi banyak orang. Sejarah sering dianggap sebatas tumpukan angka tahun, hafalan nama pahlawan, atau materi ujian sekolah yang cepat dilupakan.

Jika orang-orang terpelajar saja asing dengan sejarah berpikir, bagaimana dengan para pembuat kebijakan dan penguasa kita?

Sejarah itu bukan sekadar romantisme masa lalu. Sejarah adalah gambaran nyata tentang bagaimana ketidakadilan bekerja. Hanya pada pengalaman rakyat kecil yang tertindaslah bekas-bekas kesewenang-wenangan itu bisa dirasakan secara jujur.

Seorang warga negara hari ini tidak serta-merta bisa menikmati kemerdekaannya secara utuh. Masih banyak yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Takut mungkin dianggap memicu pembuat onar, takut kritiknya berujung sanksi hukum, hingga harus menahan diri dan menyensor pikiran sendiri saat berbicara di meja makan keluarga.

Pola seperti tadi diam-diam bekerja dalam kehidupan bernegara kita hari ini. Kritik sering kali dianggap sebagai ancaman, kebebasan bersuara kecurigaan sebagai pengganggu stabilitas, dan ruang hidup rakyat kecil sering dikorbankan atas nama pembangunan instan. Aturan hukum yang seharusnya menjadi benteng pelindung warga, sering kali justru berubah fungsi menjadi alat untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Ketika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, di situlah rasa keadilan masyarakat mulai mati rasa.

Sejujurnya, kekuasaan telah berlaku hingga generasi hari ini, justru karena kita malas belajar dari kesalahan masa lalu. Kita menuntut rakyat untuk selalu nasionalis, tetapi para pengelolanya sering kali alpa menunjukkan keteladanan etis.Seorang pemikir pernah diingatkan dengan sangat tajam: “Siapapun yang tidak belajar dari masa lalu, dikutuk untuk mengulanginya.” Pengulangan sejarah bukanlah takdir atau kualat, melainkan akibat dari kebiasaan kita yang enggan berenung secara jujur.

Pada saat yang sama, di panggung perayaan saban Agustus, khotbah pejabat publik sering kali berbunyi dengan sungguh-sungguh mencengangkan: "Tuhan, terima kasih karena bangsa ini sudah merdeka dan tak lagi dijajah oleh bangsa asing." Padahal kita semua tahu, tabiat suka menindas, memamerkan keistimewaan, dan mengabaikan suara rakyat itu kini justru dilestarikan oleh bangsa kita sendiri.

Dalam sebuah diskusi, saya pernah mencoba membandingkan rasa takut warga saat mengutarakan kritik hari ini dengan suasana di zaman kolonial Hindia Belanda. Seorang pejabat berkuasa langsung memprotes dan bersumpah. Menurutnya, membandingkan pemerintah sendiri dengan penjajah adalah tindakan yang tidak nasionalis dan merugikan martabat negara. Suasana ruangan mendadak canggung.

Saya katakan padanya, saya tidak sedang menghina siapa pun melainkan hanya mengajak kita semua untuk melihat kenyataan dengan jujur. Bukankah ruang publik seharusnya berisi keberanian untuk menilai keadaan, bukan panggung pamer janji manis yang meninabubukkan.Pada praktik bernegara hari ini, kita masih menemukan bentuk-bentuk ketidakadilan yang dulu dilawan oleh para perintis Republik. Mulai dari gaya hidup pejabat yang feodal, kesewenang-wenangan hukum, pembungkaman pendapat, hingga perampasan tanah rakyat.

Lalu, perilaku pejabat yang anti-kritik hingga regulasi yang menyempitkan ruang gerak warga, kita seolah-olah dipaksa buta huruf tentang arti kemerdekaan yang sejati. Sejujurnya, kami memang telah berhasil mengusir penjajah luar, namun kami memilih merawat watak penjajah itu di dalam rumah kami sendiri.Tentu kita tidak bisa membiarkan generasi mendatang mewarisi ketakutan yang sama. Generasi muda -termasuk saya sendiri- tidak boleh dibesarkan dalam kepatuhan budaya yang kaku.

Anak-anak muda harus diajak untuk merawat akal sehat, berani bertanya pada ketidakadilan, dan tidak mudah silau melalui kemasan seremonial. Sebab, sebuah bangsa akan runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kehilangan orang-orang yang berani menyatakan kebenaran di tengah rasa takut.

Rakyat tidak lahir hanya untuk menjadi penonton perayaan tahunan. Rakyat tidak diciptakan hanya untuk mengibarkan bendera di tepi jalan atau mendongak untuk memberi hormat bendera negara lalu kembali hidup dalam kecemasan. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara memiliki keberanian untuk berpikir dan bersuara tanpa rasa cemas.

Kemerdekaan bukanlah pesta setahun sekali untuk membangun kesadaran kita, melainkan keberanian untuk memutus mata rantai yang ada -agar kita tidak terus-menerus dikutuk mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |