Presiden Tertua di Dunia Sudah 71 Hari Kunjungan ke Eropa tapi Tak Pulang-pulang, Ada di Mana Dia?

9 hours ago 10

loading...

Presiden Kamerun Paul Biya, presiden tertua di dunia sudah dua bulan kunjungan ke Eropa dan tak tak kunjung pulang. Foto/Kirill Kukhmar/TASS/SIPA PRESS

YAOUNDE - Presiden Kamerun Paul Biya (93) bertolak ke Eropa sejak 7 Juni 2026. Sudah 71 hari atau 2 bulan lebih, presiden tertua di dunia ini tak kunjung pulang atau terlihat di depan publik. Padahal, dia pamitnya hanya kunjungan singkat. Ada di mana dia sebenarnya?

Mengutip laporan DW, Senin (17/8/2026), presiden yang telah memerintah Kamerun sejak 1982 ini masih berada di luar negeri, sementara roda pemerintahan terus berjalan dan perombakan jabatan tinggi militer dilakukan.

Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Pamitnya Kunjungan Singkat ke Eropa, tapi Sudah 2 Bulan Tak Pulang

Dengan absennya Biya di dalam negeri selama lebih dari dua bulan, muncul berbagai pertanyaan mengenai siapa sebenarnya yang memegang kendali pemerintahan, serta apa dampak ketidakhadirannya yang berkepanjangan ini terhadap masa depan Kamerun.

Di saat yang sama, negara ini juga tengah menghadapi kekerasan separatis di wilayah-wilayah berbahasa Inggris, serangan Boko Haram di wilayah utara, serta tekanan ekonomi. Perubahan terkini dalam jajaran pimpinan tinggi militer negara tersebut turut menambah ketidakpastian secara keseluruhan.

Tahun lalu, Biya memenangkan masa jabatan kedelapan dalam pemilu yang menuai sengketa, yang berpotensi membuatnya tetap menjabat hingga usianya mendekati 100 tahun. "Hal terbaik masih akan datang," ujar Biya sebelum pemilu tersebut—yang oleh lawan-lawan politiknya disebut penuh kecurangan dan diwarnai bentrokan mematikan antara pengunjuk rasa dan polisi.

Pekan lalu, juru bicara pemerintah René Emmanuel Sadi mengatakan kepada radio Prancis; RFI, bahwa Biya berada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang dirawat di rumah sakit. Hanya saja, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai keberadaannya.

Biya adalah presiden kedua Kamerun sejak kemerdekaan pada tahun 1960 dan salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Dia pertama kali menjabat pada tahun 1984 di bawah sistem satu partai, kemudian memenangkan enam pemilihan umum lagi setelah sistem politik multipartai diperkenalkan.

Dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama di luar negeri selama masa kepresidenannya. Namun, ketidakhadirannya kali ini kembali memicu pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya dan siapa yang menjalankan pemerintahan saat dia tidak berada di tempat.

Rumor mengenai kesehatan dan keberadaan Biya telah lama mewarnai kehidupan publik di Kamerun, mengingat dia jarang terlihat di depan umum. Kantor kepresidenan berulang kali harus menepis spekulasi bahwa dia sakit parah atau telah meninggal dunia. Pada tahun 2024, pemerintah melarang pembahasan media mengenai kesehatannya, dengan alasan bahwa hal tersebut merupakan masalah keamanan nasional.

Masa kekuasaan Biya yang panjang juga mencerminkan kontras yang lebih luas di seluruh Afrika. Benua ini memiliki populasi termuda di dunia, namun sejumlah negara masih dipimpin oleh para pemimpin lanjut usia yang karier politiknya bermula beberapa dekade silam, termasuk mantan tokoh perjuangan kemerdekaan yang kini memerintah di era yang berbeda.

Bagi jutaan warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal.

Read Entire Article
Politics | | | |