Pelajar Kuningan Dianiaya Hingga 30 Jahitan, Bupati Dian: Bukan Kenakalan Remaja Tapi Kriminal

7 hours ago 18

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar menjenguk pelajar yang dikeroyok temannya hingga harus menjalani 30 jahitan.

REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN -- Seorang pelajar di Kabupaten Kuningan, Muhammad Nur Ramadhani (15 tahun), menjadi korban kekerasan hingga mengalami luka serius. Kasus itu dinilai bukan sebatas kenakalan remaja, melainkan bentuk tindakan kriminal terhadap korban.

Kasus yang menimpa siswa kelas IX SMPN 2 Jalaksana itupun mendapat perhatian serius dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Apalagi, korban mengalami luka serius di bagian kepala hingga harus menjalani operasi dan mendapat sekitar 30 jahitan.

Dian menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kekerasan yang mengakibatkan seorang pelajar harus menjalani operasi, tidak tepat jika hanya disebut sebagai kenakalan remaja.

Korban Muhammad Nur Ramadhani yang biasa disapa Rama menjadi korban penganiayaan yang menjadi tontonan teman-temannya di Objek Wisata Balong Dalem, Desa Babakan Mulya. “Operasi 30 jahitan itu bukan kenakalan remaja lagi. Ini jelas sudah masuk kriminal,” tegas Dian, saat menjenguk korban di kediamannya di Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Ahad (13/9/2026) malam.

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, Elon, bupati pun berbincang dengan keluarga korban sekaligus memastikan kondisi Rama. Ia menilai kasus tersebut harus menjadi perhatian bersama karena kekerasan antarpelajar berpotensi menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak ditangani secara serius. 

“Ini fenomena gunung es. Kalau dibiarkan, akan terus seperti ini,” ujarnya.

Untuk itu, Dian meminta agar proses penanganan kasus yang menimpa Rama tetap dikawal dan tidak berhenti hanya pada mediasi atau penyelesaian secara kekeluargaan. Ia bahkan meminta Disdikbud ikut memastikan persoalan tersebut ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

“Tolong Pak Kadisdik, ini bantu dikawal. Jangan sampai penyelesaiannya berhenti di mediasi dan kekeluargaan,” tukas Dian.

Read Entire Article
Politics | | | |