Medan Perang AS-Israel vs Iran di Ruang Asimetris Tak Kasat Mata

12 hours ago 11

loading...

Fauzia G. Cempaka Timur. FOTO/DOK.PRIBADI

Fauzia G. Cempaka Timur
Senior Analyst Indo-Pacific Strategic Intelligence

DI BAWAH layar gawai yang dipegang oleh jutaan warga sipil, saat ini tersembunyi sebuah jaringan senjata tak kasat mata yang berpotensi merusak dari dalam. Pada suatu hari di penghujung Februari 2026, dunia terkejut menyaksikan serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke negara Iran. Sirene meraung di berbagai wilayah, sementara medan pertempuran ini tidak lagi sekadar dibatasi oleh demarkasi wilayah fisik dan pertukaran rudal balistik.

Sebuah aplikasi doa (prayer app) yang sangat populer di Iran, Bade Saba, diduga diretas secara presisi oleh intelijen Israel dan AS. Pesan-pesan berbahasa Persia yang menyusup melalui notifikasi otomatis bertuliskan "bantuan telah tiba" ini menjangkau lebih dari lima juta pengguna yang telah mengunduh aplikasi tersebut. Iran merespons dengan memutus akses internet selama 36 jam, indikasi yang memperlihatkan betapa efektifnya serangan kognitif tersebut mengguncang stabilitas rezim.

Aplikasi yang sejatinya merupakan ruang spiritual tersebut diubah menjadi proyektil subversif, mengirimkan pesan-pesan yang secara langsung mendesak anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengkhianati rezim. Ini adalah wujud nyata dari peperangan generasi ke-5 di era peperangan asimetris, ketika keunggulan teknologi dimanfaatkan sebagai sasaran bidik akan kelemahan psikologis lawan. Sebelum menghancurkan setiap jengkal fasilitas militer musuh secara fisik; fondasi untuk menghancurkan kohesi pikiran dan loyalitas prajuritnya telah lebih dulu dibangun dari dalam.

Dentuman bom mengguncang Teheran dan sejumlah kota di Iran, diiringi dengan retasnya jaringan komunikasi dan aplikasi keagamaan yang digunakan oleh jutaan warga. Israel, dengan dukungan penuh AS, telah dan sedang melancarkan operasi militer dan kognitif yang mereka sebut sebagai upaya "pencegahan" eskalasi nuklir dan dukungan terhadap proksi militan.

Serangan tersebut tak ayal merusak infrastruktur fisik, menewaskan pucuk kepemimpinan tertinggi Iran, melukai warga sipil, dan menciptakan atmosfer ketakutan baru di sebuah kawasan yang sudah lama tidak mengenal damai sejati.

Di balik klaim "pencegahan" dan "legitimasi keamanan" yang berulang itu, tersembunyi paradoks yang lebih mendasar. Analisis European Council on Foreign Relations (ECFR) secara tegas menyatakan bahwa perang ini adalah "perang tanpa pemenang" (a war with no winners) di mana setiap aktor yang terlibat akan meninggalkan konflik dengan kerugian yang lebih besar daripada saat mereka memasukinya. Tujuan AS sendiri tidak jelas dalam perang ini. Apakah ini soal pencegahan nuklir, pelucutan misil balistik, pembebasan rakyat Iran, atau pergantian rezim secara total.

Pola eskalasi ini bukanlah peristiwa tunggal. Perang 12 Hari pada Juni 2025 menjadi preseden penting bahwa narasi perdamaian masih jauh panggang dari api. Rangkaian sabotase, peretasan, dan operasi propaganda selama tahun 2024-2025 menunjukkan bahwa domain siber dan narasi bukan sekadar "pendamping", melainkan bagian inti dari desain konflik asimetris.

Read Entire Article
Politics | | | |