Belajar dari Perkara Iran, Kuba Siap Perang Melawan AS, Pamflet Peringatan Disebarkan ke Warga

9 hours ago 10

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Sabtu (18/4/2026). Trump menyebut Kuba sebagai negara gagal.

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA -- Dalam beberapa hari terakhir, Angkatan Laut AS menempatkan kapal induk di lepas pantai Kuba. Penempantan kapal itu dilakukan berbarengan dengan langkah Gedung Putih memperluas sanksi terhadap para pemimpin Havana. 

Jaksa federal AS telah mendakwa mantan Presiden Kuba Raúl Castro dengan tuduhan pembunuhan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, berbicara kepada wartawan, mengatakan kemungkinan kesepakatan dengan pemerintah komunis Kuba terbilang kecil. 

Menurut laporan Los Angeles Times, berbulan-bulan setelah blokade minyak sehingga memicu pemadaman listrik di Kuba, pemerintahan Trump telah meningkatkan kampanye tekanannya terhadap Havana.

Peningkatan itu bahkan telah menimbulkan pertanyaan tentang apakah Kuba akan menjadi target AS berikutnya seperti Venezuela dan Iran. AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari dan sebulan kemudian membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Para pejabat di Kuba, yang mengecam dakwaan terhadap Castro sebagai 'tindakan politik' sebagai sebuah alasan invasi, mengatakan, mereka sedang bersiap untuk perang.

Carlos Fernández de Cossío, wakil menteri luar negeri Kuba, mengatakan meskipun negara itu berharap untuk menghindari konflik, Havan sedang memperkuat pertahanan mereka. "Kita akan naif" jika tidak melakukannya, katanya.

Selama berpekan-pekan, Kuba telah menyebarkan pamflet di antara warganya yakni tentang "Panduan Keluarga untuk Perlindungan Terhadap Agresi Militer."

Pamflet itu menyatakan bahwa AS mengancam akan melancarkan serangan militer dan menghancurkan masyarakat Kuba dengan tujuan melanggengkan kapitalisme dan memusnahkan impian Panglima Tertinggi kita, Fidel Castro.

Dokumen tersebut menginstruksikan keluarga untuk menyiapkan perlengkapan bertahan hidup, mencari tempat berlindung jika mendengar sirene serangan udara, dan memberikan petunjuk pertolongan pertama untuk hal-hal seperti mengikat perban.

“Jika musuh menyerang, revolusi kita akan membela diri hingga kemenangan tercapai dan agresor diusir,” demikian bunyi dokumen itu.

Warga Kuba mengamati perkembangan ini dengan cemas, tetapi tetap fokus pada urusan sehari-hari untuk bertahan hidup.

Read Entire Article
Politics | | | |