Ancaman Karhutla: Dari Pemadaman Api Menuju Pencegahan Hotspot

12 hours ago 8

loading...

Dr. Ir. Aswin Usup, MSc, Guru Besar Universitas Palangka Raya. Foto/Dok. SindoNews

Dr. Ir. Aswin Usup, MSc
Guru Besar Universitas Palangka Raya

PAGI itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan rawa gambut di Kalimantan Tengah. Bagi sebagian orang, itu tampak seperti fenomena alam biasa. Namun untuk masyarakat Kalteng yang telah lama bergelut dengan ekosistem gambut, kabut tersebut adalah sinyal peringatan—bahwa api mungkin telah bergerak dalam sunyi di bawah permukaan tanah. Beberapa tahun lalu, bencana kebakaran hutan di Kalimantan mencapai puncaknya.

Pada musim panas 2015 (Juni sampai Oktober), tiga provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan terkepung asap. Bahkan beberapa media asing menyebut kebakaran itu sebagai salah satu bencana kebakaran hutan terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Dampaknya, asap tidak hanya “memutihkan” Kalimantan, melainkan juga “menutup” langit Malaysia dan Singapura. Diprediksi lebih dari 28 juta orang terdampak dengan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan. Empat tahun berselang, Juni 2019, api kembali melahap Kalimantan Tengah dan beberapa provinsi lainnya. Bila dibuat skala bencana, saat itu terdapat ribuan titik api (hotspot)dalam sehari hingga mengakibatkan penutupan sekolah dan penundaan penerbangan.

Salah satu tantangan kebakaran lahan gambut di Kalimantan adalah, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, melainkan juga merambat perlahan di bawah tanah. Ia seperti ular yang hidup, bergerak maju, menghanguskan lapisan gambut yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Inilah karakter unik sekaligus berbahaya dari kebakaran gambut. Sepintas ancaman tidak kasat mata, lalu setelah muncul, spot api sulit dipadamkanhingga berbulan-bulan.

Berdasarkan penelitian Hooijer bertajuk Current and future CO₂Emissions from Drained Peatlands in Southeast Asia, 2010, ditemukan fakta bahwa kebakaran lahan gambut bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah hasil interaksi kompleks antara faktor ekologis dan aktivitas manusia. Drainase lahan untuk pertanian dan perkebunan telah menurunkan muka air tanah gambut, sehingga mempercepat kering lalu mudah terbakar.

Muka Air Tanah
Akibatnya, saat musim kemarau datang, sedikit percikan saja dapat memicu kebakaran besar. Meski begitu, menyederhanakan masalah ini hanya sebagai akibat dari pembukaan lahan adalah pendekatan yang tidak memadai. Kita harus melihat gambut sebagai sistem hidrologi yang utuh. Ketika keseimbangan air terganggu, seluruh ekosistem menjadi rentan.

Dalam sejumlah penelitian yang penulis lakukan di Universitas Palangka Raya, ditemukan fakta menarik bahwa stabilitas muka air tanah merupakan kunci utama dalam pencegahan kebakaran. Dengan kata lain, gambut yang tetap basah hampir mustahil terbakar.

Read Entire Article
Politics | | | |